.comments-page { background-color: #00BFFF;} #blogger-comments-page { padding: 0px 5px; display: none;} .comments-tab { float: left; padding: 5px; margin-right: 3px; cursor: pointer; background-color: #f2f2f2;} .comments-tab-icon { height: 14px; width: auto; margin-right: 3px;} .comments-tab:hover { background-color: #eeeeee;} .inactive-select-tab { background-color: #d1d1d1;}
DFN. Powered by Blogger.

SELAMAT DATANG DI DAFONE'S NOTE

Nge-Blog'e arek Go-Blog
Showing posts with label Life Style. Show all posts
Showing posts with label Life Style. Show all posts

Bubur Safar, Etnik Food Warisan nenek Moyang


Beberapa hari sebelumnya Para tetangga di rumah pada antar bubur ke rumah. Bubur yang kumaksud adalah bubur yang terbuat dari tepung ketan terus dibentuk bulat menyerupai kelereng, dengan kuah kental aroma gula merah berwarna coklat yang sangat menggoda selera. Banyak Versi mengenai bubur ini, Orang-orang Madura menemainya dengan “Tajin Plokor” (Tajin=Bubur, Plokor=Bulat) kalau orang jawa bilang jenang glundur.

            Umumnya Bubur ini disajikan pada bulan Safar dalam kalender Hijriah. Karena ini Adanya dibulan safar maka Aku namai bubur ini sebagai “Bubur Safar”. Tak ada ketentuan atau peraturan yang mewajibkan warga membuat bubur ini. Namun hal ini sudah menjadi tradisi yang sebagian warga beranggapan untuk menghilangkan Na’as/Apes/Hal buruk.

            Namun tak semua orang beranggapan begitu, sebagian lagi membuat bubur dan dibagikan ke para tetangga merupakan kebiasaan turun-temurun dan sebagai bentuk kerukunan bertetangga dengan niatan bersodakoh. Hehehe. Nah kalau di desa sebaung sendiri Masih banyak yang melakukan adat seperti itu. Contohnya beberapa hari yang lalu, Pas tanggal 10 safar di rumah banyak mangkok berisi bubur. Saat ku tanya dari siapa eh ternyata para tetangga bebarengan membuat bubur, dan sebelumnya tanggal 1 safar Ibu dan Kakak juga sudah membuat dan dibagikan. Sebenarnya ini bukan meminta balesan atau saling bertukar makanan, Namun beberapa orang beranggapan kalau gak ikut buat gak enak jadinya.

           Ada segi negatifnya sih mengenai adat seperti ini, ini menyakut Ekonomi Warga yang pas-pasan. Kalau dihari sepeti ini Warga yang tidak membuat bubur dan dirinya banyak dapat dari orang maka dia akan merasa tak nyaman dan terpaksa harus ngutang kesana-kemari. Menurutku sih tak masalah jika tidak melakukan adat seperti itu, tidak usah berfikiran negatif tentang keselamatan deh. Minta aja pertolongan Allah agar selalu diberi keselamatan, itu pun sudah pasti dan tidak harus mengeluarkan duit.

           Namun, ada Trik lain untuk menghemat biaya pengeluaran, beberapa ibu-ibu membuat bubur bukan dari tepung ketan melainkan dari Bubu Mutiara yang sudah siap pakai. Selain itu Ada juga yang tak mau repot dan hanya membuat Ketan yang ditaburi parutan kelapa. hal ini cara untuk berhemat dan masih bisa besodakoh kepada warga sekitar. itulah Adat yang masih berlangsung di desaku yakni desa sebaung, kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo. Berikut Foto-foto Bubu Safar/Tajin Plokor(bhs madura)/Bubur glondor (kata orang jawa). Berikut disajikan Jenang safar yang kemarin sempat bertaburan di rumah. hehehe


Penyajian pakai seterofoam (lebih ringkas)


(Kolak Pisang Ketan, Ada kolangkalingnya juga loh)


Sekian postingan kali ini, Semoga bermanfaat dan menambah wawasan. :-)
0

Perjalanan keduaku menuju kabupaten Sampang

Alhamdulillah, sekarang Aku mulai rajin posting di blog ini, menjadikan blog sebagai Diary dan tempat berbagi. Kali ini Aku mencoba menceritakan perjalananku ke rumah kakak Ipar di madura. Tepatnya di kabupaten Sampang kecamatan Robatal desa Torjunan. Meski sebelumnya aku pernah berkunjung kesana bersama keluargaku.

            Well, karena kami harus tiba disana pagi, tentunya harus berangkat malam hari. Kami sekeluarga berangkat dari rumah jam sebelas menggunakan Dua mobil. Meski sedikit ngantuk, tetap saja berangkat demi tiba disana tepat waktu. Perjalanan dimulai jam 22:30 WIB 21 Desember 2012 (hari yang digemborkan kiamat oleh bangsa Maya dan ternyata tak terbukti) dari probolinggo.

            Perjalanan Malam hari memang lebih baik, karena udara tak terlalu panas, namun ada kekurangannya yakni kita tidak bisa menikmati pemandangan dijalan. Mobil Xenia yang kutumpangi dengan beberapa anggota keluarga berada didepan jauh meningkalkan mobil kedua yang terjebak Macet di probolinggo. Tanpa menunggu mobil yang dibelakang akhirnya pak sopir berinisiatif menunggu di jalan menuju Tol Gempol.

            Hem… lumayan lama menunggu mobil kedua, sekita limabelas menit dan akhirnya kami berkumpul kembali. Beriiringan kami menuju jalan tol dan dengan kecepatan penuh dan kecakapan serta navigasi sopir di mobil yang kutumpangi akhirnya kami tiba di Pintu masuk jalan tol jembatan suramadu. Jembatan yang menghubungkan kedua pulau yakni pulau jawa dan madura perlahan kami lewati. Indahnya pemandangan dimalam hari dan kencangnya hembusan angin laut beraroma khas mulai menemani penyebrangan kami. Saat mencari kamera untuk mengabadikan pemandangan malam itu ternyata kamera masih berada di mobil satunya. “Hadeh.. yaudah semoga saat pulang bisa mengabadikan jembatan Suramadu”, kataku dalam hati.

            Setelah menyebrang, entah kapan Aku mulai terlelap didalam mobil hingga Akhirnya Aku dibangunkan oleh kakakku. Saat membuka mata, ternyata kami sudah berada disebuah masjid di kabupaten sampang. Kulihat jam dinding masjid ternyata menunjukan pukul tiga pagi. Kulihat ada seorang bapak-bapak berada di dalam masjid, dan kami kira dia adalah takmir masjid. Akhirnya kami meminta izin kepada takmir masjid untuk numpang istirahat sambil menunggu waktu sholat shubuh. Alhamdulillah kami diijinkan oleh bapak itu.


(Masjid yang Kami singgahi)

Aku mencoba telentang diatas lantai masjid yang dingin untuk menghilangkan capek karena duduk terlalu lama. Sepertinya semua kecapean dan melakukan hal yang sama di teras masjid. Hingga akhirnya adzan shubuh berkumandang, Aku dan beberpa anggota keluarga yang hendak melakukan sholat langsung ke kamar mandi untuk berwudlu.
            Beberapa warga sekitar mulai berdatangan, umumnya mereka adalah bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah berumur untuk melakukan sholat berjamaah. Tidak terlalu banyak memang, tapi Aku takjub dengan beberpa orang yang datang sambil naik sepeda kayuh dan ada ibu-ibu yang membawa senter berjalan lewati tengah sawah hanya untuk berjamaah di masjid. Yang menjadi pertanyaanku adalah kemana para remaja dan orang-orang yang masih muda? Sebenarnya Aku tak pantas menanyakan hal itu, karena Aku juga jarang untuk sholat berjamaah. Hehehe. (malas kali). Akhirnya sholat shubuh selesai, beberpa orang sudah pulang kerumah masing-masing. Tinggal beberpa bapak-bapak yang lanjut dengan mengaji di masjid. Aku dan keluargaku malah sarapan di masjid itu. Inilah sarapan bersama yang kami lakukan terlalu dini untuk dikatakan sarapan. Hehehe.

          Matahari sudah mulai terbit, sebelum melanjutkan perjalanan Aku menyapu masjid dan membersihkan sampah yang kami tinggalkan. Itulah hal yang haru kita lakukan, dimanapun kita harus tetap menjaga kebersihan, apalagi itu tempat ibadah. Setelah yakin cukup bersih seperti semula, Semuanya masuk ke mobil dan Tarik gas menuju Kecamatan Robatal Sampang Madura. Dan beberpa menit kemudian (kurang lebih 20 menit) kami sampai di Desa Torjunan tujuan kami. 
(Balai Desa tempat kami menitipakan MObil)

            Mobil yang kami tumpangi diparkir dihalaman balai Desa, karena Rumah yang akan kami tuju berada di dekat balai Desa Torjunan. “Alhamdulillah” itulah yang kukatakan ketika menginjakan tanah madura, karena perjalanan kami ke madura lancar dan selamat dijalan. Oleh-oleh dari rumah yang berjumlah delapan karton yang isinya bermacam-macam kue dan sembako juga ikan yang dibawa oleh keponakanku. Maklum kalau ke madura harus membawa apa yang kiranya gak ada disana, jadi yang kami bawa itu adalah hal-hal yang sulit didapatkan di desa itu.

            Dari Balai Desa, Rumah yang akan kami kunjungi sudah terlihat, Bangunan baru berbatu bata berwarna putih berdiri di sebrang sawah. Oia, Entah mengapa Sepanjang perjalanan Aku melihat tumpukan batu bata berwarna putih dipinggir jalan. Eh setelah bertanya ke orang sana, Batu putih itu dijual sebagai bahan bangunan. Harganya kalau gak salah denger Rp 800.000 unutk 2000 batu bata berwarna putih. Itu mahal enggak ya? Mahal tidaknya tergantung darimana sudud pandang kita, kalau menurut warga sana itu sudah murah kok. Hehehe.  
(Rumah Bertembok Putih)
(Batu batanya berwarna putih loh... asli batu bukan dari tanah dibakar terus diwarnai :D )

            Setelah beberapa jam kami tiba disana, pemilik rumah langsung menyugukan kami makan. Makanan yang sudah terkenal di pulau madura yakni Sate Madura. Semua orang mendapatkan satu porsi sate yang terdiri 10 tusuk Sate, terlalu banyak memang yang disediakan untuk kami. Karena kami tidak menghabiskan apa yang disugukan, mereka bilang bahwa kami tidak suka makan sate atau sate yang kami makan tidak cocok.
            Ingat orang-orang madura meski terkenal kasar tapi sebenarnya mereka baik. Jamuan yang dilakukan orang-orang sana memang terlihat berlebihan namun itulah tradisi mereka, menjamu tamu layaknya seorang raja. Kalau tidak dihabiskan pasti mereka akan sedih karena mengira masakan mereka tidak cocok dengan lidah tamunya. Kakak hanya menjawab bahwa kami semua sudah kenyang, dan  memang satenya enak tapi terlalu banyak untuk dihabiskan. Akhirnya meeka mengerti dengan alasan itu. hehehe

            Setelah makan, aku mencoba berkeliling sekitar rumah, melihat-lihat apa saja yang ada disana. Ketika melihat kamr mandi, ada sebuah bambu yang dibelah membentang masuk ke kamar mandi seperti pancuran. Ternyata, di daerah itu masyarakat memanfaatkan air hujan yang ditadah dari atap rumah disalurkan menuju kamar mandi. Maklumlah daerah perbukitan yang sulit untuk mendapatkan air. Meski ada tapi umayan jauh untuk pergi ke sumber air terdekat.
(Saluran Air yang terbuat dari Bambu untuk mengalirkan Air Hujan)

(Suasana Di kamar Mandi)

            Disamping kamar mandi agak jauh sedikit ada dapur yang masih menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Tungku yang mereka pakai berbeda dengan tungku pada umumnya yang ku kenal. Aku hanya tahu tungku dari tanah liat dan tungku dari susunan batu bata merah yang biasa digunakan oleh oran2 rumah ketika mengadakan acara besar seperti pernikahan dan acara lain. Tapi orng madura lebih kretif dan sedikit modern, mereka menggunakan rangkaian besi seperti gambar dibawah ini. Harganya cukup murah, untuk yang single Cuma 40rb, dan buat yang doubel mencapai 75rb.

Tungku buatan warga sekitar
            Dibelakang Rumah merupakan gumuk atau bukit, nah Aku mencoba berkeliling kesana meski jalannya becek untuk mengobati rasa penasaranku aku tetap mendaki gumuk itu. pohon jati tumbuh shubur, selain itu ada tanaman yang belum pernah kulihat sebelumnya. Meski penampilannya seperti buah anggur tapi aku tidak berani untuk memakannya, Aku hanya bisa mengambil gambarnya saja.

(Bukit belakang Rumah)
            Aku terus berjalan menyusuri beberapa pohon jati dan kulihat dibawah kakiku ada binatang yang sering kulihat, tapi kali ini ukurannya lebih besar, yakni kaki seribu atau luwing. Aku mencoba mengambil gambarnya dan saat kuperlihatkan ke kakakku dia Cuma bilang “Gak ada kerjaan foto yang aneh2” hehehe.
(Makanan Enak nih.. hihihi)
(Katanya sih bisa dibuat obat.. apa ini? aku juga gak tahu)

            Oia, kembali ke buah yang mirip anggur tadi. Saat kutanyakan ke kakakku, dia mengatakan bahwa itu adalah anggur, dan saat kutanyakan pada adikku dia bilang itu adalah jenis buah aku lupa namanya dan itu rasanya asam, penjelasan adikku tidak masuk akal karena aku juga tau buah yang dimaksud adikku, karena aku juga pernah sekolah di SMP adikku dulu. Akhirnya Aku tnya ke pemilik rumah asli orang madura, saat dibilang namanya aku malah ketawa, bapak itu bilang itu adalah “leng malengan” dari kata itu aku menangkap arti bahwa ini buah maling-malingan, maksudnya? Penjelasan kedua adalah ini anggur madura dan rasanya asam. Terlalu banyak penjelasan dan nama, yaudah lupakan aja buah ini, dan aku tidak mau memakannya.
(Katanya Sih Anggur Madura. Au ah.. gelap)

            Tak terasa, waktu berjalan cepat, setelah tidur siang dan melaksanakan sholat dzuhur, ayah mengajak kami untuk pulang ke rumah alias kembali ke probolinggo. Setelah berpamitan dan mengecek barang kami langsung menuju balai desa tempat mobil terparkir. Udara dan terik matahari semakin panas, membuat kulitku kemerahan (maklum, jarang terkena matahari. Hahahaah (alay)). Mungkin berat, namun kami harus meninggalkan tempat itu dan suatu saat akan kembali berkunjung lagi. Entah berapa tahun lagi juga tidak tahu. Hahaha.

            Diperjalanan Pulang, Kami berhenti disebuah pasar tepatnya pasar BELEGA di kabupaten sampang. Namun oleh-oleh yang kita cari tidak kami temukan, akhirnya diapasar itu hanya membeli Petis ikan asli khas Madura. Perjalanan kami lanjutkan dan ketika hampir masuk jembatan Suramadu, kami berhenti lagi deretan pedagang kaki lima di pintu masuk suramadu. Wah, rekomendasi pak sopir memang tepat, di tempat ini oleh-oleh yang kami cari ada, juga beberapa sovenir dan kaos suramadu.

            Mumpung disana, Aku mencoba membeli beberapa oleh-oleh dan sovenir. Tak lupa juga memotret beberapa sovenir yang menggambarkan ke khasan pulau madura. Beriku foto-foto sekitar pintu masuk jembatan suramadu

Suasana Pintu Masuk Suramadu (MADURA)

(Memilih Oleh-Oleh)

(Makanan Sebagai oleh-oleh dari madura)

(Ada pak sakera dengan istrinya loh)

(Sovenir berupa hiasan dinding yang menggambarkan Madura)

(Hiasan Dinding  yang berisi aneka macam Senjata (Sabit) khas MAdura)

Setelah dirasa cukup, Akhirnya kami berangkat menuju jembatan dan tak lupa membayar tiket Tol sebesar Rp 30.000 per mobil. Berikut foto-foto yang sempat Aku ambil disekitar Jembatan Suramadu.










            Setelah melewati Jembatan Suramadu, Tantangan baru dimulai. Kami harus berjalan pelan dan merayap karena kondisi jalan raya surabaya sesak dan penuh dengan orang-orang yang pulang dari kantor. Beberapa lampu merah sudah tak terhitung kami leawati, beberapa tikungan yang membuatku tambah pusing utnuk diingat. Akhirnya kami tiba di tempat wisata religi “MAKAM SUNAN AMPEL SURABAYA” Kami melakukan sholat Ashar disana, sekaligus beziarah ke makam Wali Allah sambil menunggu Adzan Maghrib.
(Pintu Masuk menuju Makam Sunan Ampel)

(Suasana Ramainya Pasar Ampel)


            Setelah Sholat dan belanja sesuatu di tempat itu, perjalanan pulang berlanjut namun sebelumnya kami beristirahat dan makan di PITSTOP jalan tol Waru/Gempol ya? (lupa). Hehehe. Dan Alhamdulillah Kami selamat sampai rumah pukul 22:00 WIB, Pas 24 JAM kami meninggalkan rumah. Sekian cerita perjalanan ini, kalau ada kesempatan Aku akan menceritakan perjalananku yang lain. Thanks udah mampir. J




(Nah... kalau ini adalah Foto disekitar rumah di MADURA pengennya diletakan dibelakang psotingan hehehe.)
1

Perjalanan Pertama ke kota Kediri


Kediri, kota inilah yang mengatarku menaiki Kereta Api untuk pertama kalinya. Dari mulai lahir hingga Kuliah tidak pernah merasakan naik kereta Api dan bagaimana sensasi yang didapatkan saat menaiki kereta Api. Ok lupakan masalah kereta Api, saat ini yang ingin kuceritakan adalah pengalamanku di kota kediri pada tahun 2010 silam, tepatnya di bulan juni lembar ke enambelas (16 juni 2010).

            Seorang teman bertempat tinggal di kediri, perkenalannya pun tetap di mig33. Pertama dia mencari seorang gadis alias ceweknya dan atas bantuan teman-teman mig33 probolinggo akhirnya kami menemukan dimana gadis pujaannya itu. ternyata eh ternyata gadis pujaannya sudah menikah. Hahahaha… kasian deh temanku itu, modal sudah banyak yang dikeluarkan untuknya tapi akhirnya ditinggal nikah juga.

            Selain teman chating, ada juga teman kuliah dulu yang rumahnya juga di kediri, beberapa teman lain juga ada disana. Inilah gunanya punya teman jauh dan tentunya bisa ditumpangi untuk hidup alias gratisan. Hehehe

            Bermodal nekad, kuberanikan diri untuk berangkat ke kota yang tak pernah ku kunjungi sebelumnya. Malam sebelum keberangkatan Aku mencoba SMS teman bernama Indra, yah pertama berbasa-basi dulu sebelum eksekusi minta tolong numpang hidup. hahahaha.

            Perjalanan dari Jember menuju kediri memakan waktu sekita 6-7 Jam. Atas saran teman Aku turun di terminal Jombang dan langsung naik Bus kota menuju Kediri. Untuk amannya sebelum naik Bus yang lewat depat Stasiun Jombang Aku sempatkan untuk bertanya kepada tukang becak mengenai Bus menuju kediri.

            Akhirnya Aku berada di dalam Bus menuju kota kediri. Disampingku ada seorang bapak-bapak yang penampilannya agak mencurigakan. Wajahnya “sangar” mirip preman dan tatapan matanya fokus pada satu titik. Karena Aku jauh dari kampung halaman, trik pertama adalah mencoba akrab dengan orang yang mencurigakan dan tentunya selalu waspada.

            Eh… ternyata bapak itu asalnya dari jember dan beristri dengan orang kediri. Keakraban pun mulai terjalin hingga akhirnya bapak itu menawarkan makanan yang dibawanya. Eits… Aku ingat tips untuk tidak menerima makanan atau minuman dari orang yang tak dikenal. Aku jawab saja “terimakasih pak, lagi saum (puasa)” hahaha. Padahal Aku kelaperan dan untuk antisipasi hal-hal yang tak diinginkan terpaksa berbohong. :p

            Hingga Akhirnya setengah perjalanan dilalui, Bapak itu menanyakan kemana tujuanku. Aku hanya mengatakan tentang alamat dari temanku itu. Atas saran bapak itu, sebaiknya Aku turun di IKIP PGRI (lupa nama universitasnya) dan setelah konfirmasi ke temenku Akhirnya Aku ikut bapak itu turun di IKIP.

            Aku dan bapak itu turun bersamaan, sebelum bapak itu melanjutkan perjalanannya bapak itu menawarkanku untuk singgah di rumahnya dibelakang universitas. Nah loh? Jangan-jangan Bapak ini punya maksud dan tujuan lain… (masih curiga dengan penampilan bapak yang menyeramkan), Aku hanya ambil aman saja dan bilang kalau temanku menunggu didalam Universitas.

            Bapak itu terlihat memaksa dan akhirnya Aku berpura-pura masuk ke universitas dan membaur dengan Mahasiswa disana. Setelah memastikan bapak itu hilang alias pergi, akhirnya Aku keluar lagi dari universitas dan menunggu Indra menjemputku di halte.

            Lumayan lama penantianku, berpanasan menikmati para mahasiswi sexy lewat didepanku. Hihihihi. Dan akhirnya si Indra datang dengan membawa helm. “Alhamdulillah” akhirnya dia datang dan Aku ingin langsung istirahat karena memang sudah kecapean. Saat menaiki boncengan motornya eh malah masuk ke universitas.

            Hadeh, rasa lelahku semakin menjadi… Di kampus itu Aku makan nasi goreng dan langsung pulang ke rumah Indra. Hal pertama yang ingin kulakukan di rumah itu adalh mandi dan sholat dan langsung tidur siang karena kecapean.

            Well, Suara adzan Maghrib berkumandang dan Aku terbangun dari tidurku meninggalkan waktu shalat Ashar. Rumah yang kutempati tidak ada orang sama sekali, semua pemilik rumah tidak ada din rumah, hanya kamar tamu yang terisi olehku. Hahaha… serasa rumah sendiri pokoknya (ngarep).

            Setelah itu, aku mencoba menghubungi beberapa teman yang sama-sama tinggal di kota kediri. Tak lupa juga mengabari keluarga di rumah bahwa Aku berada di rumah teman di kediri. Eh ternyata kata Ibu, ada family yang juga tinggal di kota kediri. Tapi jaraknya lumayan jauh tepatnya di Pare. Ok, pulang dari rumah temen ini aku akan menuju pare dan itu adalah jalur bus mini menuju kota malang.

Tiga hari dua malam di kota kediri belumlah cukup bagiku menjelajahi ke eksotikan kota kediri. Karena tidak bawa kendaraan sendiri akhirnya Aku menunggu temanku pulang dari jaga tokonya, yakni toko Emas, (pantesan Tajir banget nih orang).

Malam pertama, Aku dibuat ennek dengan masakan orang kediri. Kenapa enek? Karena nasi dan mie goreng yang dijual dipinggir jalan rasanya manis L. Kecap manisnya tumpah kali, kok ada mie goreng dan nasi goreng rasanya terlalu manis. Untung aja Ada garam yang sedikit kucampur dengan makan itu.

Saat pagi hari, Aku mencoba makanan yang berkuah dan tentunya tidak pake kecap lagi. Yup… Soto Ayam dan tentunya rasanya sedap menggoda. Mangkoknya terlalu kecil buatku, apa orang kediri pelit-pelit yah? :D halah, bayar 5000 aja minta banyak Om…! :p Suapan pertama yang ingin kursakan adalah nikmatnya kuah Soto. Slurrrp… “shit” kok manis lagi sih? Itulah yang kurasakan. Indra tidak merasa bahwa soto itu manis, malah dia menambahkan kecap manis ke sotonya. Hemmmm…. Jangan-jangan memang lidahnya orang jawa timur bagian timuuuuuur itu terbiasa Asin kali jadinya sedikit manis menurut orang kediri akan menjadi lebih manis dilidah orang Jatim yang terkontaminasi orang madura :D.

Well, Jalan-jalan pertama di siang itu adalah mengunjung Kampus UNISKA, kampus yang lebih kecil dibanding kampus tercintaku yakni UNEJ. Namun, pemandangannya sangat jauh menggoda dibanding kampus Unej. Hehehe. Cewek blasteran chinese dan Jawa berkeliaran dengan baju yang lumayan Seksi. Wih… kalau Aku ngajak temen-temen kos pasti sudah pada netes-netes tuh liur. (maklum temen kosku pada haus wanita…peace man) hahaha.

Setelah menunggu sekita satu jam di depan kampus, akhirnya Indra keluar dan menyelesaikan kuliahnya. Ok saatnya Jalan-jalan dan menikmati indahnya Kota kediri. Aku pun bersemangat… tiba-tiba ada telfon dari ayah indra. “fiuh” jalan-jalannya ditunda karena ada pekerjaan yang menunggu temanku itu. (tau gini Aku bawa motor ke kota ini) gerutuku.

Sesampainya di rumah, Aku sempat ditawarin untuk pinjam motor Indra. Bukannya gak bisa naik motor sih Aku sungkan karena motornya terlalu keren bagiku lagian Aku juga gak tahu tujuanku kemana. Mau tidak mau Aku harus menunggunya di rumah yang sepi dan kuhabiskan dengan  nonton Tv.

Sore Temanku mengajak beli Makanan Khas kediri, apa itu? hemmm… namanya Pecel Tumpang. Sebelumnya Indra mengingatkan, kalau pecel Tumpang tidak akan cocok di lidah orang luar Kediri. Aku mencoba tantangannya, rasanya lumayan pedas, namun semakin ku mencoba menikmati maka semakin ingin keluar makanan itu dari mulutku. Dengan kecepatan penuh aku menghabiskan pecel tumpang itu.

Saat diperjalan pulang, tiba-tiba aku merasa mual dan rasa mual itu tak tertahankan. Kenapa ya? Jangan ditanya karena aku juga gak tahu :D. Setibanya di rumah, aku langsung  berlari menuju kamar mandi dan weeer… semua keluar. Temenku hanya tertawa melihatku, karena sebelumnya aku sudah diingatkan untuk tidak makan makanan itu.

Ok, makanan kediri sepertinya cukup, saatnya menikmati tempat wisatanya. Pertama yang ku kunjungi adalah Simpang lima yang dibundarannya itu ada bangunan yang mirip bangunan di paris sono. Nih liat aja gambarnya… 
(Ini foto yang kumaksud, bangunan dibelakangku itu mirip dengan bangunan yang di Paris sono)

 (Masih ditempat sama, but fotonya lebih jelek,,, eh orangnya yang jelek :D)

Dan ini adalah terowongan bawah tanah menuju bangunan yang dijadikan tempat rekreasi keluarga.

(Terowongan di bawah jalan Raya, menuju Gumul Simpang Lima)
             
(Berpose Saenak Udele. hehehe)

(Di tangga menuju bangunan megah)
Tempat kedua yang kukunjungi adalah Selomangleng dan ini foto-fotonya.
(Di depan Selomangleng)

(Bergaya di akar kayu yang roboh)

(Ngeliatin Motor temen (pengen...:p))

Itulah beberapa Gambar yang sempat diabadikan, meski gambarnya kurang bagus tapi tetep menjadi kenangan. Ok itulah kisah perjalananku ke kota kediri, dan masih banyak hal yang belum  dieksplor tentang kota itu. lain kali kalau ada kesempatan semoga aku bisa berkunjung ke kota kediri lagi. Aamiin.. J
0

Mig33 Prolink dan Pantai Pasir Putih Situbondo



Mig33 dan Pasir Putih merupakan dua hal yang berbeda yang membentuk suatu kenangan yang tak terlupakan. Saat itu (16-Mei-2010) Teman-teman Mig33 mengadakan acara tour bersama ke pantai. Pantai terdekat dengan daerah probolinggo adalah Pantai Pasir Putih yang ada di Situbondo. Banyak alasan Kami memlih pantai itu, yang paling kuat adalah alasan tempat ini merupakan jarak terdekat bagi teman-teman yang dari luar kota (Lumajang, situbondo, dan bondowoso). Selain itu, kami juga ingin beramai-ramai menaiki motor menuju pasir putih Situbondo.

Perjalanan dimulai dari alun-alun keraksan, jadi sebelumnya kita sudah sepakat untuk berkumpul dialun-alun kraksaan. Banyak diantara kami yang datang terlambat membuat waktu semakin siang dan panas. Beberapa menit kemudian semua sudah berkumpul, entah berapa orang yang jelas cukup ramai pagi itu. Sebelum berangkat seperti biasa berdoa bersama dan pemberian arahan tentang tertib lalu lintas oleh sang kordinator. Setelah berdoa kami sempat berfoto bersama di depan Alun-alun Kraksaan.
Foto Bersama Sebelum Berangkat

Dengan membaca Basmalah kami mulai perjalanan ke arah timur menuju kabupaten Situbondo. Dengan kecepatan standar kami beriringan bersama memenuhi jalan dan tentunya tidak mengganggu lalu lintas. Ditengah perjalanan beberapa teman lain bergabung dan saat tiba di sebelah timur PLTU PAITON kami berhenti sejenak untuk beristirahat sambil menunggu teman-teman lain yang masih tertinggal dibelakang.

Istirahat pun cukup dan kami melanjutkan perjalanan terus menuju kearah timur hingga akhirnya kami melewati papan selamat datang. Aku sudah tahu, beberapa meter lagi kami akan tiba di Pintu masuk dan Akhirnya Aku dan teman-teman berkumpul didekat pintu masuk mengkoordinir tiket yang harus kita bayar. Untung saja masalah tiket terserah koordinator karena dia lagi berduit. Hehehe

Setelah memastikan Motor Aman, Aku dan teman-teman langsung menuju Pantai untuk bersantai dan mencari tempat yang nyaman. Beberapa teman sudah tak sabar untuk menikmati segarnya air laut pantai pasir putih. Kulihat semua sudah menuju kamar mandi, dan Aku pun mengikuti mereka untuk ganti pakaian.

Ganti pakaian sudah, saatnya bersenang-senang di pantai, maklumlah jarang bersenang-senang bersama jadinya agak tak terkendali. Hehehe. Banyak kenangan yang tak terlupakan disana, apalagi bagi si Hesty temenku. Kenangan Pahit saat berada dipasir putih, dia kehilangan Cicinnya yang baru dibelikan oleh Orang tuanya. Kasihan banget melihatnya mencari di pinggir pantai. Namun Akhirnya dia mengikhlaskan dan larut dalam kesenangan bersama.  Berikut Beberapa foto kenangan bersama di pantai pasir putih.
Sesaat Setibanya di Pantai Pasir Putih
Keceriaan Bersama Mereka
Jangan Lakukan Adegan Ini (Lihat ada berapa orang kah?)

Istirahat Sejenak sebelum pulang (AlmH. Neng Puji pakai kaos Putih)

Beberapa diantaranya dari luar kota

Pamer Kaos Baru... hehehe


Setelah dirasa cukup dan tak terasa kami sudah menghabiskan waktu selama tiga jam dipantai akhirnya sang koordinator mengajak untuk segera pulang. Meski masih asyik bersenang senang, kami tak ingin pulang secara terpisah dengan kelompok. Semua pun berlomba menuju kamar ganti, akibatnya kamar ganti menjadi kotor karena Pasir yang menempel berjatuhan disana. Setelah Bersih dan berpakaian rapi saatnya berfoto lagi. hehehe
Foto dibelakang Toilet... ckckckc bersama pak sulipi (paling kanan)
Setelah semua siap dan rapi saatnya kita harus benar-benar pulang ke probolinggo. Semua teman bersiap dan menata motor di dekat pintu keluar. Aku masih sibuk mencari sovenir untuk mengisi meja sovenir di rumah. Beberapa teman membunyikan klakson sebagai pertanda memanggilku yang masih ada di toko sovenir. Aku hanya tertawa sambil berlari menuju mereka dan mereka hanya berseru. Hehehe. Berikut Foto teman-teman yang sudah siap menuju probolinggo.
Berbaris Untuk segera pulang ke probolinggo
Saat Diperjalanan pulang kami semua diguyur hujan dan terpaksa berteduh disebuah Pom di Paiton. Nah, saat itulah Aku dan teman-teman menggoda pak polisi (om celeh) untuk mentraktir kita makan. Sekedar bercanda eh ternyata beneran kita semua (sebanyak itu di traktir di warung masakan padang). Alhamdulillah dapat mengisi perut yang lapar. Terimakasih Pak celeh (pak nanang) hehehe maap sebut merek.

Kehebohan di Rumah Makan Padang (Ini masih sebagian dari anggota)
Well, Akhirnya sampai juga diakhir postingan, akhir postingan berakhir di rmah makan padang dan tenang saja semua bisa tiba di rumah dengan selamat dan tak kurang apapun. Kepada teman-teman Mig33 Prolink Ayo.. kapan kita bisa kumpul lagi.. jaga tali silaturahmi. Ok. :-)WASALAM...

0

Recent Post

Related Post

Buku Tamu

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2013. Dafone's Note - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Free Templates Blogger